RSS

Pewarganegaraan Indonesia Saat Ini dan Saat Orde Baru

20 Nov

“Negara adalah alat atau wewenang yang mengatur atau mengendalikan persoalan-persoalan bersama atas nama masyarakat”.

     Itulah pendapat yang dikemukakan oleh Roger H. Soltau, seorang ilmuwan politik yang berasal dari prancis. Sedangkan menurut Harold J. Laski, negara merupakan suatu masyarakat yang diintegrasikan karena mempunyai wewenang yang bersifat memaksa dan secara sah lebih agung daripada individu atau kelompok yang merupakan bagian dari suatu masyarakat.

     Bagaimanapun juga, negara adalah tempat bagi warganya untuk mendapatkan pendidikan, kesehatan, dan rasa aman. Ada 3 unsur yang harus ada dalam suatu negara, yaitu rakyat, wilayah dan pemerintahan. Rakyat atau warganegara adalah sekumpulan manusia yang dipersatukan oleh suatu rasa persamaan yang bersama-sama mendiami suatu wilayah tertentu.

     Warganegara Indonesia bisa merupakan bangsa Indonesia asli atau warganegara asing yang disahkan oleh Undang – undang. Dalam sejarah kewarganegaraan indonesia, banyak sekali masalah yang dihadapi oleh warganegara asing agar bisa menjadi warganegara Indonesia. Salah satu kasus yang menarik adalah beberapa pemain bulutangkis etnik tionghoa yang sulit mendapatkan kewarganegaraan Indonesia. Ivana Lie baru mendapatkan kewarganegaraan Indonesia setelah 5 tahun berprestasi di tingkat internasional. Kesulitan itu juga dialami oleh pemain – pemain bulutungkis berprestasi lainnya antara lain Liem Swi King, Rudy Hartono, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Tan Yoe Hok, Hendrawan, serta masih banyak lagi pemain lainnya.

     Kasus yang sama yang kembali marak dibicarakan adalah permohonan kewarganegaraan Indonesia yang ditolak yang diajukan oleh Tong Sin Fu, pelatih bulutangkis cina yang berhasil meraih banyak prestasi.

    Tong Sin Fu lahir dan besar di Indonesia. Lebih tepatnya di Teluk Betung, Lampung, 13 Maret 1942. Kepelatihannya berawal pada akhir 1979, saat dia mulai pensiun sebagai pemain bulutangkis. Selama enam tahun Tong memoles para pemain wanita Tiongkok. Di antaranya Li Lingwei dan Han Aiping. Dua pebulu tangkis andalan Tiongkok di era 1980-an.

     Kemudian pada 1986 Tong melatih di Indonesia. Awalnya, dia tidak menangani pemain Pelatnas Cipayung. Dia melatih di klub Pelita Jaya milik Aburizal Bakrie. Ketika itu dia dikontrak USD 750 per bulan. Setelah itu Tong ditarik untuk menangani pebulu tangkis yang ditempa di Pelatnas Cipayung.

     Ketika itu sejumlah pemain legendaris nasional masih di pelatnas. Seperti Liem Swie King di masa-masa akhirnya, Icuk Sugiarto, dan Hastomo Arbi. Kemudian, dia ikut membidani lahirnya para pemain generasi emas, seperti Alan Budikusuma, Ardi B. Wiranata, dan Hariyanto Arbi. Bahkan, Tong mengantarkan Alan meraih medali emas bulu tangkis di Olimpiade Barcelona 1992. Pemain terakhir Indonesia yang ditangani adalah Hendrawan yang juga sempat menyabet juara dunia.

     Pada 1998 dia memutuskan kembali ke Tiongkok setelah permohonannya menjadi warga negara Indonesia (WNI) ditolak. Di tiongkok Tong ikut membidani lahirnya para pebulu tangkis andalan Tiongkok saat ini. Misalnya, Lin Dan, Chen Jin, Bao Chunlai, dan ganda pria Cai Yun/Fu Haifeng. Nama-nama inilah yang beberapa tahun terakhir mendominasi peta persaingan bulu tangkis dunia. Bahkan, selain mengantarkan Lin Dan hat-trick juara dunia, dia berhasil mengantar Super Dan meraih medali emas Olimpiade Beijing tahun lalu. Kemajuan dunia bulutangkis di negri Cina salah satunya berkat jasa – jasa Tong Sin Fu. Tong adalah contoh mutiara berharga yang disia-siakan.

     Status kewarganegaraan bagi sebagian orang mungkin bukanlah persoalan serius, karena semenjak lahir hingga mati tak seorang pun yang mempertanyakan bukti kewarganegaraannya. Namun tidak demikian halnya dengan orang-orang Tionghoa yang akibat kebijakan kejam di masa lalu telah menjadi sekelompok orang tanpa negara (stateless).

     Kesulitan mendapatkan kewarganegaraan juga dirasakan oleh penduduk keturunan Tionghoa yang tidak mampu mengurus permohonan kewarganegaraan karena masalah biaya. Pada zaman Orde baru banyak warga keturunan Tionghoa yang diberi status “tanpa kewarganegaraan” oleh pemerintah karna tidak mempunyai biaya yang cukup. Masalah seperti ini banyak dijumpai di era pemerintahan orde baru.

     Permohonan kewarganegaraan pada masa ini jauh berbeda dari masa orde baru. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya pemain naturalisasi yang bermain untuk tim nasional sepak bola Indonesia. Pemain naturalisasi yang bermain untuk timnas Indonesia yang pertama adalah Christian Gonzales.

     Gonzales memulai karir di Indonesia pada tahun 2003. Pemain kelahiran Montedievo, Portugal tersebut bermain di PSM Makasar, Persik Kediri, dan Persib Bandung. Pada tanggal 1 November 2010 Gonzales resmi menjadi Warga Negara Indonesia dan ia menjalani debut pertamanya di timnas Indonesia pada tanggal 21 November. Gonzales merupakan pemain yang produktif. Sudah banyak gol yang ia ciptakan selama bermain untuk timnas Indonesia.

     Selain Christian Gonzales ada beberapa pemain timnas lainnya yang merupakan pemain naturalisasi, antara lain Victor Igbonefo, Greg Nwokolo, Van Dijk dan beberapa pemain lainnya.

      Dari kasus-kasus diatas dapat dilihat perbedaan pada zaman ini dan zaman orde baru. Pada zaman orde baru, banyak tindakan-tindakan diskriminatif yang dilakukan terhadap kelompok-kelompok tertentu terutama tionghoa.

     Pada tahun 2006, pemerintah mengeluarkan Undang-Undang no 12 tentang kewarganegaraan. Menurut Undang-undang nomor 12 tahun 2006, syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi Warga Negara Indonesia yaitu:

  • telah berusia 18 (delapan belas) tahun atau sudah menikah
  • sudah bertempat tinggal di wilayah negara Republik Indonesia paling singkat 5 (lima) tahun berturut-turut atau paling singkat 10 (sepuluh) tahun tidak berturut-turut
  • sehat jasmani dan rohani
  • dapat berbahasa Indonesia serta   mengakui  dasar negara Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia  Tahun 1945
  • tidak pernah dijatuhi pidana karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 1 (satu) tahun atau lebih
  • jika dengan memperoleh Kewarganegaraan Republik Indonesia, tidak menjadi berkewarganegaraan ganda
  • mempunyai pekerjaan dan/atau berpenghasilan tetap
  • membayar uang pewarganegaraan ke Kas Negara.

     Pemohon tetap harus mengajukan sejumlah uang pewarganegaraan ke kas Negara. Akan tetapi pemerintah harus membuat kebijakan khusus bagi warga yang kurang mampu. Jangan sampai ada masyarakat yang mendapatkan status “tanpa kewarganegaraan” karena kekurangan biaya.

Yose Rizal Firdaus

1102001008

Tong Sin Fu

Sumber :

http://www.ripiu.com/article/read/tong-sin-fu-pelatih-cina-yang-disiakan-indonesia

http://gugling.com/2010/12/11/biografi-christian-gonzales-pemain-naturalisasi-pertama-di-timnas-indonesia/

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 20, 2011 in Individual Reflection

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: