RSS

Lunturnya Kepribadian Bangsa

19 Nov

     Kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari masyarakat. Kebudayaan telah menjadi ciri utama yang dimiliki suatu kelompok bangsa dan telah mendarah daging. Kebudayaan meliputi gagasan dalam pikiran manusia yang bersifat etik dan estetik. Sehingga dalam kenyataannya kebudayaan bersifat abstrak. Namun penerapannya dapat diamati dari perilaku, bahasa dan kesenian yang dimiliki suatu suatu masayarakat. Kebudayaan tersebut akan tetap bertahahan selama para anggota masyarakat hidup dan meneruskan kebudayaan luhur mereka.

     Sekarang kita memang hidup di jaman serba global, dimana segala sesuatu bercampur menjadi satu tanpa ada filterisasi yang jelas. Dimana arus perubahan dapat berasal dari mana saja yang dapat mempengaruhi aspek asli yang dimiliki suatu bangsa yang  tidak dapat dihindari. Mudahnya segala media dalam mendapatkan arus informasi dapat disalahgunakan jika tanpa pengawasan dan proteksi diri yang baik. Akses internet tanpa batas dapat mebawa dampak bagi kebudayaan. Apalagi generasi muda sekarang gampang terpengaruh dengan berbagai hal baru yang menarik menurut mereka.

    Seiring perkembangan jaman, kemajuan teknologi turut mempengaruhi pola kebudayaan suatu masayarakat. Alih-alih membawa dampak positif untuk budaya tersebut, justru lebih banyak mempengaruhi masyarakat serhadap budaya lain yang notabene bertolak belakang dengan budaya asli Indonesia. Tengoklah trend yang sedang terjadi saat ini, baju minim yang dipakai para wanita, pemuda yang bicara lantang kepada orang tuanya, bocah merokok sembarang, serta perilaku yang “dulu” dianggap tabu sekarang seolah menjadi hal yang sah dan biasa. Perkembangan jaman justru menuntun pada degradasi moral bagi bangsa ini. Kemajuan teknologi yang seharusnya bisa membawa negeri ini bersaing dengan bangsa besar lainnya, malah menjadi boomerang yang menjerumuskan bangsa ini pada area kelabu. Antara mengikuti budaya barat dan amnesia dengan budayanya sendiri.

     Sebagian besar efek yang dibawa dari perkembangan teknologi berawal dari masuknya budaya barat yang gagal disaring berdasarkan culture budaya yang ada. Sebenarnya masyarakat sadar dan mengerti efek dan akibat dari akulturasi dua budaya yang berbeda, namun derasnya arus informasi yang datang bak cucuran air yang tiada henti telah mengubah tatanan budaya yang telah terbentuk puluhan tahun yang lalu. Penyerapan unsur luar yang tidak diimbangi dengan proses filterisasi yang tepat dan relevan menyebabkan culture shock dan ketimpangan budaya bagi masyarakat terkait.

     Munculnya budaya asing memang menjadi penyebab terbesar degradasi budaya di Indonesia. Namun jika ditilik lebih mendalam, ada beberapa hal sepele yang turut menyumbangkan penyebab menurunnya kualitas bangsa ini. Penyebabnya antara lain : 1) Penerapan nilai kehidupan berbangsa yang belum maksimal, 2) Kurangnya pendidikan formal tentang Karakter Kebangsaan, 3) Implementasi Undang-Undang tentang Pendidikan Karakter Bangsa belum efektif. Ternyata ketiga faktor tersebut merupakan bom waktu yang dimiliki bangsa ini yang siap meledakkan  setiap kepribadian bangsa kapan saja. Sungguh ironis bila hal terburuk yang bakal dialami bangsa ini dikarenakan ketidak-pedulian mereka sendiri.

     Akibat dari permasalahan ini akan mempengaruhi sebagian besar aspek kebudayaan, ekonomi dan politik. Berbagai budaya asli perlahan-lahan akan punah seiring dengan gencarnya unsur yang masuk ke dalam negeri. Nilai adiluhung yang dikandung dalam setiap budaya akan semakin memudar karena tidak ada lagi pemuda yang meneruskannya. Karena mereka asyik sendiri dengan budaya baru yang lebih gaul dan stylish. Sikap individualis yang enggan menoleh apalagi menyentuh budaya asli yang seharusnya mereka lestarikan. Keegoisan ini hanya ditutupi dengan berteriak maling kepada negeri lain yang membajak budaya mereka.

     Keadaan ini diperparah dengan minimnya pendidikan karakter bangsa yang efektif. Ketiadaan program formal yang menjelaskan nilai-nilai karakter budaya yang dimiliki Indonesia. Seakan para penerus bangsa buta akan budayanya sendiri. Ini adalah kewajiban Negara untuk menggalakan program pendidikan karakter bangsa yang efektif. Namun masyarakat juga harus memiliki kepedulian akan budayanya sendiri. Diperlukan sutu sinergi yang sistematis agar setiap warga ikut berperan aktif melestarikan budaya asli Indonesia.

     Tidak perlu suatu yang rumit untuk membangkitkan lagi kebudayaan yang telah tergerus kemajuan jaman. Hanya perlu sedikit kepedulian dan tindakan aktif dari para pemuda penerus bangsa untuk mengenal kebudayaan kita. Mengimplementasikan nilai-nilai positif yang terkandung dalam adat dan budaya berlandaskan asas Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga akan mengurangi individualisme yang telah menjadi sifat baru kaum pemuda. Kita tidak harus mengenal dan mepelajari semua kebudayaan yang ada. Tapi  sedikit kepedulian kita dalam mengenal budaya sendiri janganlah dianggap sebagai suatu kemunduran, salah satu efek umum yang menyebabkan segala hal yang berhubungan dengan budaya dihubungkan dengan hal-hal berbau kolot dan kuno, namun anggaplah sebagai usaha pencitraan budaya yang dinamis. Dinamis dalam mengikuti perkembangan jaman dan mampu menjadi identitas moral dan bangsa. Sehingga lambat laun akan menumbuhkan rasa nasionalisme diantara para pemuda yang lain.

     Selain  kepedulian perlu adanya upaya penyaringan budaya yang masuk sehingga masih pantaskah budaya itu ditiru atau diterapkan, sebab lemahnya proses filterisasi budaya di Indonesia dapat melupakan budaya lama karena sudah menemukan yang baru. Oleh karena itu kita perlu membanggakan apa saja yang telah menjadi budaya sendiri. Pemahaman akan nilai-nilai Pancasila akan menjadi patokan utama yang harus dipatuhi sebagai alat filterisasi. Sehingga selain melakukan proses filterisasi para penerus bangsa secara tidak langsung juga telah mengaplikasikan nilai- nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

     Kebudayaan tidak lepas dari peran agama yang memberikan pedoman hidup bagi umatnya. Ajaran agama juga bisa diajdikan pedoman dalam proses filterisasi budaya. Karena pada hakekatnya ajaran agama menuntun manusia pada kehidupan yang benar. Selain itu nilai-nilai dalam Pancasila disusun oleh para pendiri bangsa dengan berlandaskan pada ajaran agama, secara tidak langsung pengamalannya dapat berdampak pada pendidikan moral dan karakter bangsa. karena sebagai identitas bangsa, budaya dan kearifan lokal harus dijaga kepemilikannya dan keasliannya agar kita perlu berteriak maling karena ada Negara lain yang mengakuinya. Padahal, karena kita yang sebenarnya tidak peduli pada kebudayaan kita sendiri.

Sumber :
http://ikrapuncak.blogspot.com/2011/10/pentingnya-pendidikan-karakter-bangsa.html http://fernandoboytorres.blogspot.com/2011/11/dampak-masuknya-budaya-asing-barat.html http://echelbrakerz.blogspot.com/2011/11/pengaruh-globalisasi-terhadap-jati-diri.html?zx=4b0975549473ecd9

Pradipta Wahyu A
Teknik Informatika – 1102001031

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 19, 2011 in Individual Reflection

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: