RSS

Dimanakah Pancasila ?

18 Nov

       Beberapa waktu yang lalu, tepatnya saat memperingati Hari Lahirnya Pancasila muncul suatu pertanyaan mendasar terhadap negeri ini : “Dimanakah Pancasila?” . Pertanyaan ini diserukan oleh mantan Presiden Ketiga Republik Indonesia BJ Habibie dihadapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan mantan Presiden Megawati Soekarno Putri di Gedung DPR Senayan Jakarta. Beliau mengungkapkan analisa yang memukau tentang penyebab ketiadaan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bernegara saat ini.

    Menurut Habibie, ada dua hal penting yang menjadi penyebab “lenyapnya” Pancasila dari kehidupan bernegara di Indonesia. Penyebab pertama adalah perubahan kondisi dan lingkungan yang terjadi secara menyeluruh dibeberapa aspek kehidupan bangsa. Mulai dari perubahan global yang semakin mendorong kehidupan masyarakat mengikuti gaya hidup kebarat-baratan. Munculnya gagasan tentang Hak Asasi Manusia yang semakin maju tanpa dibarengi dengan Kewajiban Asasi Manusia yang konkrit dan real. Serta maraknya perkembangan teknologi informasi yang memberikan kekuatan baru terhadap informasi sebagai sumbu utamanya. Dampaknya informasi dapat di manipulasi sesuai kehendak untuk mencapai tujuan tertentu.

       Beberapa perubahan itu mendorong pergeseran nilai kehidupan berbangsa  dalam kapasitas perilaku politik dan ekonomi yang menjadi dasar kehidupan suatu Negara. Sebagaimana mestinya, Pancasila harusnya mampu menghadapi perubahan global yang dapat menggerus indetitas bangsa agar tidak mengikuti arus yang bertolak belakang dengan tujuan awal Pancasila. Namun, belum terealisasikannya nilai-nilai pancasila dalam kehidupan sehari-hari menyebabkan Pancasila bagai pengasingan di Negeri Sendiri.

      Konsep Pancasila sudah ada sejak jaman Majapahit, proses lahirnya sendiri merupakan proses yang lama dan membutuhkan banyak pengorbanan sehingga menjadi suatu dasar Negara yang mampu menjadi pedoman bangsa Indonesia. Meskipun dirancang dan dibentuk enam puluh enam tahun yang lalu, bukan berarti Pancasila tidak relevan lagi untuk digunakan saat ini. Pancasila dirancang agar dapat mengikuti perkembangan jaman, secara fleksibel mengikuti problematika yang dihadapi bangsa ini. Namun bangsa ini sendirilah yang masih menganggap bahwa Pancasila cuma relevan untuk kakek nenek kita yang berjuang melawan penjajah demi sebuah kemerdekaan. Pancasila dianggap masih terlalu kolot untuk mengikuti perkembangan terknologi dan arus informasi. Paradigma ini melekat di kehidupan masyarakat yang tanpa disadari telah mengikis nilai-nilai Pancasila dari kehidupan sehari-hari. Padahal apabila ditelaah , Pancasila didesign untuk mampu mengikuti perkembangan zaman di saat ini maupun yang akan datang. Kefleksibilitasan Pancasila inilah yang belum mampu diterapkan oleh bangsa ini sehingga Pancasila semakin terpinggirkan dari kehidupan nyata.

      Penyebab yang kedua menurut Habibie adalah euphoria reformasi sebagai akibat traumatisnya masyarakat terhadap penyalahgunaan kekuasaan di masa lalu yang mengatasnamakan Pancasila. Perubahan reformasi yang digalakan kaum pemuda seolah ingin menanggalkan Pancasila dan menggantinya dengan sesuatu yang baru. Imbasnya masyrakat melupakan pentingnya Pancasila sebagai norma dasar yang mampu menjadi payung kebangsaan. Memang Pancasila masih diakui sebagai dasar Negara, namun kenyataannya Pancasila tidak dijadikan pedoman dasar dalam membangun bangsa hingga saat ini.

      Masyarakat masih trauma dengan Konsep Pancasila yang santer didengungkan pada jaman Orde Baru. Saat itu Pancasila sebagai sebuah senjata untuk mendapatkan kekuasaan serta memonopoli pemaknaan dan penafsirannya demi kelanggengan kekuasaan. Seolah-olah Pancasila identik dengan kekuasaan absolut dari suatu era pemerintahan. Akibatnya dalam mebangun era pemerintahan baru, Pancasila dianggap instrument politik di masa sebelumnya dan berusaha disingkirkan dan dilupakan.

     Terlepas dari monopoli pemaknaan terhadap Pancasila. Tidak bisa dipungkiri itu merupakan kesalahan sejarah yang sebisa mungkin dilupakan. Karena pada hakekatnya Pancasila bukanlah milik suatu pemerintahan, bukan ornament poltik yang dapat disalahtafsirkan. Pancasila merupakan dasar struktural bangunan Indonesia. Selama Indonesia tegak berdiri, Dasar Negara Pancasila selalu mendampingi. Entah dengan pergantian pemerintahan maupun perubahan zaman yang yang semakin maju, Pancasila akan selalu menjadi dasar Negara Indonesia.

     Sebagaimana kitab suci yang menjadi pedoman bagi kaumnya, Pancasila adalah pedoman hidup berbangsa dan bernegara bagi Indonesia. Namun sekalipun kitab suci merupakan wahyu dari Tuhan, masih ada pengikut yang mengingkari petunjuk dari kitab suci. Begitu pula Pancasila masih banyak warga Negara yang hidup tanpa menigkuti pedoman Pancasila. Alih-alih menerapkan aspek budi luhur dan nilai nilai kemanusian, mereka lebih mementingkan kehidupan liberal yang mereka ikuti dari perkembangan teknologi. Yang lebih menyakitkan, Pancasila dikhianati sendiri oleh penguasa yang seharusnya lantang menyerukan realisasi nilai-nilai Pancasila, mereka mengerti dan disumpah dengan Pancasila namun kenyataannya mereka tidak  menerapkan dalam menjalankan kekuasaan.

      Parahnya lagi para penguasa sekarang menggunakan kekuasaan yang mereka  untuk mengelabuhi hukum. Menghalalkan segala cara untuk mengelabuhi dan menutupi kebobrokan mereka. Hukum bagaikan bola yang bisa ditendang dan dioper oleh aparat hukum sendiri. Meskipun ada upaya pengusutan tidak ubahnya kamuflase belaka yang tidak akan menyentuh jantung penguasa diusut sampai tuntas. Bahkan upaya pengalihan isu menjadi senjata utama untuk memecah konsentrasi masyarakat agar tidak lagi memperhatikan kasus yang seharusnya menjadi fokus utama. Layaknya pisau yang tek pernah diasah, hukum di negeri ini hanya tajam ke bawah dan tumpul di atas.

      Semakin kritisnya masyarakat Indonesia di jaman yang serba terbuka ternyata belum mampu mengalahkan kecerdikan para penguasa yang terus-menerus membodohi bangsa dan rakyatnya. Bangsa ini seolah terkurung dalam kebebasannya. Apabila ditilik dari polah dan tingkah laku para pemimpin bangsa yang semakin dewasa dalam berdemokrasi, tidak amanah dalam menjalankan kepemimpinan, adu jotos dan tingkah laku yang memalukan. Pantaslah pertanyaan yang diutarakan mantan Presiden BJ Habibie , “Dimanakah Pancasila?”.

     Pancasila sebagai ideologi terbuka sebenarnya mampu menghadapi setiap persoalan bangsa ini. Apabila para pemimpin dan segenap bangsa ini mau menerapkan nilai-nilai Pancasila secara konsekuen dan bertanggung jawab. Tidak hanya dimengerti, tapi juga diimplementasikan berdasarkan rasa cinta tanah air dan peduli terhadap bangsa. Sisihkan rasa egois demi mengejar keuntungan pribadi, pinggirkan sikap pragmatis dan liberalis yang terus meggerogoti bangsa ini. Implementasi Pancasila dalam kehidupan sehari-hari secara sinergi dan penuh kesadaran diri antara para pemimpin dan seluruh warga Negara. Proses revitalisasi nilai-nilai Pancasila sebagai Ideologi bangsa dan Negara merupakan langkah kongkrit yang bisa dilakukan demi menumbuhkan benih-benih Pancasila. Sehingga Pancasila tetap aktual, dinamis dan senantiasa mampu menjawab dinamika perkembangan aspirasi masyarakat.

Sumber :
http://arodam.wordpress.com/2011/11/04/pidato-bj-habibie-dalam-rangka-memperingati-hari-lahir-pancasila/
http://sholehhadi.blogspot.com/2011/10/pancasila-yang-terpasung.html
http://beritasore.com/2011/11/14/amalkan-pancasila-sebagai-ideologi/

Pradipta Wahyu A
Teknik Informatika – 1102001031

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 18, 2011 in Individual Reflection

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: